Penulis: Mawardi | Minggu, 21 April 2013 - 00:11:09 WIB
Pemborong Proyek Pengaman Pantai Tak Bayar Upah Borongan Pekerja

Kategori: PERISTIWA - Dibaca: 414 kali

BATAM, Rakyat Media-Inilah kalau pemborong modal dengkul,upah pekerja pun tega menembaknya alias tidak dibayar,seperti yang dialami 23 pekerja asal Semarang yang mengerjakan dua proyek pengaman pantai di Nongsa.

Rekanan pemborong Balai Besar Air dan Sungai Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Wilayah Sumatera di Batam yang mengerjakan sejumlah proyek pengamanan pantai di Pemedam dan Teluk Mata Ikan,akhirnya berurusan dengan kepolisian.

Pasalnya,Oris Satria warga Tanjungpinang yang dikenal sebagai pemborong dengan bendera PT.Delima Agung Pratama dan CV Djirev Putra Bersaudara,dilaporkan Kepala pekerja borongan yang mengerjakan proyek pengaman pantai di Pamedan dan Teluk Mata Ikan ke Direktorat Kriminal Khusus (Krimsus) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polda Kepri.

Sunardi Kepala Pekerja borongan yang mengerjakan sejumlah proyek milik Oris Satria kepada Rakyat Media belum lama ini di Polda Kepri mengungkapkan, bahwa ia nekat melaporkan kasus pelaksanaan pengerjaan proyek pengaman pantai di Pamedam, Nongsa sepanjang 655 M dengan nilai proyek sebesar Rp5 milyar yang dikerjakan PT.Delima Agung Pratama.

Dan pelaksanaan pengerjaan proyek pengaman pantai sepanjang 119 M Teluk Mata Ikan Nongsa senilai Rp770.470.087 sebagai pelaksana CV Djirev Putra Bersaudara. Kedua proyek  yang dikerjakan asal jadi ini dilaporkan ke Direktorat Krimsus Tipikor Polda Kepri,lantaran Oris Satria dinilainya tidak memegang komitmet yang telah disepakati.

Menurut Sunardi, sebelum pelaksaan proyek itu dimulai,Oris Satria pernah menghubungi dirinya di Semarang lewat telpon,ketika itu Oris Satria menyuruh datang ke Batam lantaran ada proyeknya di Sagulung yang akan dikerjakan. Padahal ketika itu proyek yang disuruh Oris satria mengerjakan sama sekali masih dalam proses lelang.

”Saya dia suruh datang ke Batam dan sekaligus bawa karyawan sebanyak 20 orang tanpa diberikan uang sepeserpun.Dia bilang,berapa biaya transportasi dan biaya makan dijalan sampai ditempat hitung saja dulu nati dia bayar,kata Sunardi menurukan ucapan sang pemborong Oris Satria.

Karena ucapan manis yang keluar dari mulut Oris Satria itu lanjut Sunardi,ia yakin dan beberapa hari kemudian,ia bersama 20 orang pekerja terbang dari Semarang ke Batam, tetapi apa yang terjadi,sesampainya mereka di Batam,proyek yang dijanjikan berlokasi di Sagulung untuk mereka kerjakan ternyata masih di tender.

“Supaya kami tidak nganggur di Batam,saya disuruh mengerjakan proyek pengaman pantai di Pamedam dan proyek Teluk Mata ikan,kedua proyek tersebut sudah selesai saya kerjakan,tetapi pada saat hitungan memang upah borongan pekerjaan dia selesaikan.Namun,kerugian saya,biaya transportasi membawa 20 orang pekerja dari Semarang dan biaya makan mereka,Oris Satria tak mau bayar.Padahal,dia berjanji sama saya ketika saya masih di Semarang akan dibayar,”kata Sunardi.

Oleh karena,kata dia,masalah pengerjaan proyek tersebut saya laporkan kepada Direktorat Krimsus Tipikor Polda Kepri,yang langsung diterima oleh penyidik pak Ronal dan Briptu Budi Ardi,sebab pengerjaan kedua proyek yang kami kerjakan itu tidak sesuai dengan spesifikasi teknis, baik pengerjaan dan matrial yang digunakan tidak sesuai bestek.

”Proyek itu tidak sesuai spesifikasi,matrial seperti batu seharusnyamemakai batu cadas, tapi yang dipakai hanya batu bouksit,saya punya bukti foto dan saya bisa tunjukan dimana saja pengerjaan itu yang dikerjhakan asal jadi.Tembok pengaman pantai itu hanya kesing,didalamnya kropos,kalau dibongkar hanya timbunan pasir laut,"ujar Nardi.

Dijelaskan Sunardi,terkait kasus ini,pihak Dirkrimsus Tipikor Polda Kepri berjumlah empat orang sudah turun kelokasi proyek,melihat langsung kondisi proyek."Saya juga ikut kelapangan bersama tim Dirkrimsus Tipikor Polda Kepri,dan saya juga sudah dimintai keterangan oleh penyidik seputar pengerjaan proyek itu,sudah saya jelaskan teknisnya, saya mengerjakan proyek itu tanpa gambar, karena tidak dikasi gambarnya sama pemborong,”ungkapnya.

Lebih lanjut menyebutkan,tidak hanya dua proyek itu saja yang disinyalir dikerjakan tidak sesuai spesifikasi,tapi ada sejumlah proyek lainnya juga dikerjakan tidak sesuai bestek.Namun,kata dia,herannya,meski proyek yang dikerjakan pemborong itu kualitasnya amburadul,tetapi dia masih juga bisa mendapatkan sejumlah proyek di instansi tersebut.Bahkan,proyek yang ditanganinya nilainya diatas puluhan miliar,sebut Nardi.

“Saya punya kerugian seluruhnya berdasarkan catatan saya sebanyak Rp81 juta,ketika saya bekerja di Dompak,saya disuruh Oris Satria mengerjakan proyek temannya,tetapi setelah selesai saya kerjakan,sisa uang pekerjaan sebanyak Rp51 juta lagi tidak dibayar, dia bilang temannya lari,Saya minta pertanggungjawaban Oris dia menolak, padahal dia yang mengenalkan saya dengan temannya.Kemudian ketika bekerja di Nongsa, kerugian saya membawa pekerja dari Semarang yang belum dibayar masih ada Rp29 juta lagi,jadi totalnya Rp81 juta,”pungkasnya.

Sementara Oris Satria,ketika dikonfirmasi media ini melalui ponselnya membantah pihaknya tidak membayar upah pekerjaan yang dilakukan Sunardi,”Nggak betul itu bang, abang jangan bela bela Sunardi itu,budak itu yang tidak betul. Supaya abang tau, semua upah pekerja sesuai perjanjian sudah saye bayar,ada tanda tangan die,kalau dia laporkan saya tidak takut bang.Karena apa,saya sudah selesaikan dia sesuai perjanjian,”kata Oris Satria dengan logat melayunya.

Ketika disinggung masalah pengerjaan proyek itu tidak sesuai spoesifikasi,Oris Satria menjelaskan, kalau soal pengerjaan yang disebutkan Sunardi tidak sesuai bestek, masalah itu kan mereka yang mengerjakan,”Saya sudah berikan gambar kepada mereka, saya suruh kerjakan sesuai gambar, tetapi kalau tidak dikerjakan sebagaimana yang saya suruh, itu berarti mereka yang melakukan karena mereka yang ngerjakan, kalau diusut polisi Sunardi juga bakal kena,”jelas Oris.(rm/mawardi)

 




0 Komentar :

Copyright © 2012 RakyatMedia.com. All rights reserved BR.