Penulis: Mawardi | Minggu, 21 April 2013 - 00:29:20 WIB
Dirkrimsus Tipikor Polda Kepri Usut Pengerjaan Proyek Pengaman Pantai Nongsa

Kategori: HUKUM - Dibaca: 502 kali

BATAM, Rakyat Media-Direktorat Kriminal Khusus Tindak Pidana Korupsi Polda Kepri, sedang melakukan penyidikan kasus dugaan korupsi terkait pengerjaan proyek pengaman pantai di Desa Pamedam dan Teluk Mata ikan Nongsa. Batam.

Pasalnya proyek pengaman pantai sepanjang 655 meter senilai Rp5 milyar yang dibiayai dari dana APBN tahun 2012 dikerjakan PT.Delima Agung Pratama kabarnya dikerjakan asal jadi alias amburadul.

Demikian juga terhadap proyek penahan pantai di desa Teluk Mata ikan sepanjang 119 meter dikerjakan oleh CV Djirev Putra Bersaudara dengan nilai anggaran Rp770.470.087 kondisinya juga tidak jauh berbeda dikerjakan asal jadi alias amburadul.

Dimana kedua proyek proyek milik SNVT Pelaksana Jaringan Sumber Air Sumatera, Direktorat Jendral Pekerjaan Umum tersebut tidak sesuai dengan spesifikasi teknis. Selain matrial seperti batu yang digunakan tidak sesuai spek, pengerjaan fisik proyek itu juga menyimpang dari ketentuan bestek.

Ironisnya, meski kualitas kedua proyek yang dikerjakan oleh pemborong Oris Satria sangat jelek. Pihak SNTV Pelaksana Jaringan Sumber Air wilayah Sumatera IV Batam, terkesan tutup mata. Bahkan, disebut sebut pengawas dari instansi ini jarang berada dilapangan ketika proyek itu sedang dikerjakan.

Sunardi selaku kepala pekerja proyek itu kepada Rakyat Media pekan lalu di Batam Centre mengungkapkan, banyak kesalahan fatal dalam pelaksanaan pengerjaan proyek pengaman pantai di desa Memban dan Teluk Mata Ikan tersebut.

Menurut Sunardi, salah satu yang paling fatal dalam pelaksanaan proyek itu adalah sama sekali proyek itu tidak memakai tumit tembok penahan pantai. Kemudian lanjutnya, tidak pakai cerucuk penahan tembok, berdasarkan spek galian tumit depan tembok seharusnya 70 cm, tetapi hanya digali sedalam 40 cm.

Kedalaman galian kiri kanan dinding tembok seharusnya 40 cm, namun digali sedalam 30 cm. Tembok kiri kanan hanya berupa kesing, seharusnya tembok menggunakan batu cadas, tetapi hanya dibuat tembok kiri dan kanan lalu diisi pasir laut. Sehingga dikuatirkan proyek penahan pantai ini tidak akan tahan jika diterjang ombak, ujarnya.

Lebih jauh Nardi menjelaskan, pemasangan teo protection tembok laut plesteran seharusnya memakai batu cadas, kenyataan dilapangan hanya memakai batu gunung dicampur dengan batu bouksit. Plasteran lantai kerja tidak ada. Kedalaman kubus beton tidak sampai 40 cm. Galian tidak sesuai ukuran, tembok kiri kanan laut hanya kesing. Sementara didalamnya kropos, jelasnya.

Sunardi mengungkapkan, kontraktor tidak pernah membuat laporan pekerjaan baik harian, mingguan maupun bulanan, pengawas dari Balai Wilayah Sungai Sumatera IV Kementerian PU di Batam, jarang melakukan pengawasan,” Saya berani buktikan kalau di ketuk tembok beton itu didalamnya keropos, batu yang digunakan, batu gunung bercampur batu bouksit, saya sebanarnya tidak mau memasangnya, tapi karena perintah pemboromng ya saya kerjakan,” ungkap Nardi

Bukan proyek pengaman pantai di desa Memban Nongsa yang dikerjakan asal jadi. Ada sejumlah proyek lain juga dikerjakan asal jadi oleh kontraktor yang sama. Seperti proyek penahan pantai di Teluk Mata Ikan sepanjang 119 meter senilai Rp770.470.087 yang dikerjakan oleh kontraktor CV Djirev Putra Bersaudara, pungkasnya.

Sejumlah proyek yang dikerjakan kontraktor tersebut umumnya menyimpang dari bestek alias asal jadi.”Saya hitung hitung proyek yang di desa Memban, Nongsa kontraktornya untung besar, saya perkirakan paling banyak proyek itu menelan anggaran hanya Rp3 milyar. Diduga kontraktor dengan pejabat PU sudah ada kongkalikong dan KKN, sehingga setiap tahun PT Delima Agung Pratama ini menguasai proyek di PU Balai Wilayah Sungai Sumatera IV Batam, meski pengerjaan proyek itu tidak sesuai spek, tetapi proyek itu tetap dibayar 100 persen,”kata Nardi.

Sementara Harsoyo selaku pengawas dari PU Balai Wilayah Sungai Sumatera IV Batam ketika dikonfirmasi melalui ponsel terkait pengerjaan proyek penahan pantai di desa Memban, Nongsa yang dituding tidak melakukan pengawasan sehingga proyek pengaman pantai yang menelan dana sebesar Rp5 milyar dikerjakan asal jadi merasa terkejut.

”Dari mana anda mendapat nomor hp saya,” ujar Harsoyo. Namun, ketika ditanya soal pengerjaan proyek, Harsoyo enggan menjawab,”Saya masih diluar belum bisa memberikan penjelasan soal itu, mohon maaf saya tadi lagi di jalan, untuk resminya lebih baik bapak datang aja ke kantor, biar nanti kita tentukan pertemuan resminya, suwun bapak,”tulis Harsoyo dalam SMS-nya yang dikirim pada awak media ini.(rm/mawardi)

 




0 Komentar :

Copyright © 2012 RakyatMedia.com. All rights reserved BR.