Kepala Bidang (Kabid) Sarana dan Prasarana Kantor Pengawas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Batam, Martin Luhlulima.
BATAMHUKUMKEPRI

Martin Kabid Prasarana PSDKP Batam, Terkait Raibnya Ratusan Mesin Kapal Sitaan “Silakan Tanya Kejaksaan”

776views

BATAM, RAKYATMEDIA.COM-Ratusan kapal hasil tangkapan aparat di seputar laut Kepri yang sudah diamankan di pelabuhan Kantor Pengawas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) di jembatan dua Barelang Batam, ternyata mesinnya dan berbagai benda yang berharga di kapal tersebut hilang entah kemana raibnya.

Menurut sumber Rakyat Media mengungkapkan, aksi pencurian mesin kapal hasil tangkapan PSDKP tersebut kabarnya dilakukan setelah kapal sitaan itu sudah ada keputusan pengadilan kemudian akan tenggelamkan di perairan ujung Pulau Pengelap dekat Pulau Abang. Sebelum ditenggelamkan lanjut sumber, kapal-kapal sitaan yang berbobot mati 100 hingga 150 ton itu mesin, kipas dan as kapal diambil lebih dulu kemudian diisi dengan tanah dan batu agar bisa kapal tersebut tenggelam.

Lebih lanjut Sumber itu mengungkapkan, aksi pengambilan mesin-mesin kapal sitaan tersebut kabarnya dilakukan oleh sejumlah orang yang disebut-sebut selama ini dipakai tenaganya oleh aparat untuk memotong anjungan kapal itu agar ketika ditenggelamkan ke dasar laut bangkai kapal tersebut tidak mengganggu alur pelayaran.

“Kalau yang baru ditenggelamkan pada awal tahun 2020 ada 6 kapal, keenam kapal tersebut sudah tidak ada mesinnya, kapal-kapal tersebut di tenggelamkan di pulau Pengalap, depan Pulau Abang, semua itu yang melakukan pemotongan kapal-kapal itu disebut-sebut bernama Andi, satu kapal itu ada tiga mesinnya, semuanya sudah diambil mesinnya lalu diisi tanah ke dalam kapal tersebut supaya jangan timbul, rata-rata semuanya kosong mesinnya,”ujar sumber media ini yang minta tidak ditulis indentitasnya dalam berita ini.

Lebih lanjut sumber itu menyebut, pada tahun 2019 sampai dengan 2020 diperkirakan sudah ada puluhan kapal sitaan itu yang ditenggelamkan,” Dari tahun 2019 sampai tahun 2020 diperkirakan sudah ada 30 kapal sitaan yang ditenggelam, semuanya kapal tersebut mesinnya sudah kosong, mesin, kipas dan asnya sudah diambil, pembongkaran mesin-mesin itu dilakukan di jembatan 6 dengan menggunakan alat berat crane lalu dibawa menggunakan kapal lain. Dalam waktu dekat ini sudah ada 16 unit kapal yang sudah berkekuatan hukum juga akan ditenggelamkan, dari 16 unit tersebut, dua unit sudah diambil mesinnya,”sebut sumber.

BERITA LAINNYA  Ditresnarkoba Polda Kepri Terima Limpahan Perkara Kasus Narkotika Jenis Sabu Dari Bea dan Cukai Batam

Berdasarkan hasil investigasi dan temuan di lapangan, mesin kapal tersebut bernilai ratusan juta. Barang-barang tersebut dijual melalui jaringan mafia penegak hukum sehingga tidak ada yang berani mengusik. Sepanjang tahun 2019-2020 diperkirakan sekitar 30 sampai 40 kapal yang ditenggelamkan dengan cara mengisi muatan kapal dengan tanah dan batu. Sementara kapal-kapal yang masih menunggu ketetapan dari pengadilan masih ada puluhan teronggok di perairan depan kantor PSDKP Batam di jembatan dua Barelang.“Ketika kapal ditenggelamkan, mesin dan beberapa peralatan penting sudah tidak ada lagi. Sudah diperjualbelikan oleh oknum aparat yang bertanggung jawab terhadap kapal tersebut, “ kata sumber Rakyat Media di lapangan.

Menurut sumber tersebut, praktek penjualan mesin kapal yang merupakan tangkapan penegak hukum di lapangan itu sudah berlangsung selama setahun bekalangan ini. Sebelumnya, semasa Menteri Kelautan masih dipegang Bu Susi Puji Astuti, semua kapal-kapal tangkapan di laut langsung ditenggelamkan dengan cara ditembak. “tapi sekarang meskipun kapal itu ditenggelamkan tapi mesinya sudah kosong, “ katanya.

Mesin kapal tersebut bernilai sekitar 100 hingga 150 jutaan. Hampir setiap bulan pasti ada saja kapal yang ditangkap oleh aparat. Kemudian mesin kapal itu umumnya dibeli oleh cukong-cukong ikan yang memiliki kapal penangkap ikan sehingga mereka dapat berlayar hingga ke laut lepas sebagaimana nelayan asal Vietnam atau kapal asing lainnya. Mesin kapal tersebut umumnya sangat canggih dan mempunyai kecepatan di atas rata-rata. Bahkan tidak jarang ketika terjadi pengejaran oleh kapal patrol aparat mereka dengan gampang lolos karena mesin kapal yang kuat dan bagus. Selain itu, kontruksi kapal-kapal ikan asing itu umumnya juga lebih kokoh dan enak buat bermanufer ketika dikejar kapal patrol aparat.

Nelayan tradisional di seputar Kepri tentu tidak mampu membeli mesin kapal tersebut selain tidak akan bisa digunakan dengan kontruksi kapalnya yang perlu bagus dan cukup besar. Sehingga mesin-mesin kapal asing yang ditangkap itu umumnya dibeli para cukong ikan dengan kapal tangkap ikan yang besar, tapi selama ini menggunakan mesin biasa. Dengan mesin bekas kapal asing itu, mereka berani berlayar sampai ke lautan lepas.

BERITA LAINNYA  Menko Maritim : Luhut Binsar Panjaitan :1800 TKA Tiongkok Akan Bekerja di Pabrik Bauksit Bintan

Pertanyaannya siapakah yang paling bertanggung jawab terhadap hilangnya mesin-mesin kapal tersebut? Secara hukum kapal-kapal sitaan oleh aparat KKP maupun AL atau Pol-Airud berada di bawah pengawasan kejaksaan sehingga lembaga inilah sesungguhnya paling bertanggung jawab terhadap keberadaan barang bukti tersebut. “Kalaupu terjadi jual beli ya pasti aparat yang berwenang lah yang melakukan, kan kapal-kapal tersebut dalam pengawasan mereka. Tidak mungkin mesin kapal bisa hilang begitu saja karena benda itu cukup besar dan berat. Untuk melakukan pembongkaran juga memerlukan waktu yang cukup lama, “ jelas sumber tersebut.

Sementara Kepala Bidang (Kabid) Sarana dan Prasarana Kantor Pengawas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Batam, Martin Luhlulima, ketika dikonfirmasi Rakyatmedia belum lama ini diruangan kerjanya terkait raibnya puluhan mesin kapal sitaan yang akan ditenggelamkan terkesan melempar tanggungjawab. Martin mengatakan, pihak PSDKP sama sekali tidak mengetahui soal hilangnya puluhan mesin kapal sitaan tersebut, setelah kami lakukan penyidikan selanjutnya kami serahkan kepada Kejaksaan.

“Tugas PSDKP yang melakukan penangkapan dan penyidikan, setelah selesai kami lakukan penydikan selanjutnya kami serahkan kepada Kejaksaan. Jadi kalau anda konfirmasi ke kami soal itu anda salah alamat, seharusnya anda langsung saja kepada Kejaksaan sebab itu bukan tanggungjawab kami lagi, yang jelas Jaksa punya kerja dan itu Jaksa punya kewenangan bukan kami, kalau kami sebagai ekskotor anda boleh Tanya kepada kami, pihaknya hanya menyerahkan untuk selanjutnya itu kewengan Kejaksaan,”tegas Martin.

Sementara Rakyat Media sudah berupaya meminta klarifikasi dan konfirmasi ke aparat Kejaksaan Negeri Batam baik melalui pesan wa maupun telepon tidak direspon. Sehingga sejauh ini belum didapatkan keterangan dan kejelasan bagaimana kedudukan barang bukti kapal yang mesinya sudah hilang tersebut.

BERITA LAINNYA  OPERASI MANTAP PRAJA SELIGI TAHUN 2020 POLDA KEPRI DAN JAJARAN

Sementara Ketua LSM Kelompok Diskusi Anti 86, Cak Ta’in Komari, SS meminta kasus hilangnya mesin kapal ikan hasil tangkapan itu diusut sampai tuntas. “Pasti ada peran orang-orang punya jabatan strategis dalam praktek jual beli mesin kapal tersebut, apalagi statusnya sebagai barang bukti. Ini harus diusut tuntas, “ tegas Cak Ta’in.

Menurut Cak Ta’in, meskipun kurang setuju dengan kebijakan untuk penenggelaman kapal hasil tangkapan terhadap kapal-kapal asing, tapi sangat berharap ada penegakan hukum secara komprehensif. Pencurian ikan oleh nelayan luar negeri seakan terjadi secara massif dan terus menerus. “Nelayan kita kalah dan tidak mampu berlayar sampai lautan lepas, karena kapal kecil dan mesin juga kecil, “ ujarnya.

Lebih lanjut Cak Ta’in menekankan, kepada kapal-kapal yang sudah ditangkap dan sita Negara tidak dibagikan kepada nelayan-nelayan Indonesia sehingga mereka mampu menangkap ikan hingga lautan lepas. Selain itu, nelayan dengan menggunakan kapal bagus dan kencang akan dapat membentu kerja aparat penegak hukum dalam menghalau aktivitas pencurian ikan oleh nelayan asing. “Kemampuan nelayan kita bagus dari jaman dulu, tapi infrastruturnya kapalnya tidak mendukung, maka itu yang harus didorong semestinya, mereka juga bisa membantu pengaman laut ketika ada pencurian ikan oleh kapal asing, “ jelasnya.

“daripada ditenggelamkan kan tidak memberikan nilai tambah dan juga tidak menimbulkan efek jerah bagi nelayan asing, mending dikasikan ke nelayan kita setelah ada putusan pengadilan. Itu jauh lebih bermanfaat karena di lautan semakin banyak nelayan kita ada di sana yang pasti bisa menghalau nelayan-nelayan asing yang suka mencuri ikan, “ tambah Cak Ta’in.***

Penulis : Mawardi

 

 

 

 

1 Comment

Leave a Response

error: Berita ini dilindungi Undang-undang.